Tentang Hidup

Berharap udara pagi selalu se-sejuk ini;Sahut-sahutan para pedagang menjajakan jualannya;Anak-anak jalan beriringan menuju sekolah;Riang gembira, bernyanyi, bergandengan tangan;Tetiba, pandanganku tertuju pada anak diseberang jalan;Tangannya membelai lembut pada seekor kuda peliharaannya;Sesekali ia terlihat bercerita, entah apa;Seekor kuda menyimak dengan tenang, seolah saling memahami satu sama lain;Bukankah ia harusnya ke sekolah?Apakah ia benar-benar tidak ingin?Atau, hiduplah yangLanjutkan membaca “Tentang Hidup”

Untuk kita, Hi-Five ♡︎

Warna-warni hidup ini ada ditangan kita masing-masing. Pilih warnamu sendiri. Jika kamu ingin lukisan yang tampak cerah pilih warna merah, kuning, atau hijau. Jika ingin mendung, pilih warna hitam, coklat, atau abu-abu. Kita tidak bisa melukis pelangi di langit yang indah, tapi kita bisa melukis hidup indah seperti pelangi. Sampai syurga, Insyaa Allaah yah ♥︎Lanjutkan membaca “Untuk kita, Hi-Five ♡︎”

Senja yang Pergi.

Terkadang, bentuk luka dari patah hati tak melulu soal kecewa, tapi juga bisa dalam wujud bahagia. Mereka, Arini dan Ridho. Hubungan mereka biasa saja, sampai Arini mengharap lebih kepada Ridho yang tidak pernah menginginkannya. Sore itu, mereka hendak melakukan ritual menunggu senja di tepi dermaga. Ya, keduanya sangat suka dengan senja.“Rin, kalau aku ga ada,Lanjutkan membaca “Senja yang Pergi.”

Hakim Masa Depan.

Tidak ku kelak bahwa aku tumbuh di lingkungan yang sebagian besar orang-orangnya kerap melakukan cemooh berkedok bercanda. Sometimes, mereka bisa dengan mudah menilai seseorang hanya dengan perspektif yang ada dalam kepalanya. Amat sangat tidak adil, right? Saya pribadi, sempat mengalami mental breakdown karena penilaian-penilaian mereka.“Halah, katanya sarjana, tapi nganggurnya lama”,“Percuma kuliah kalau gajinya UMR, lulusanLanjutkan membaca “Hakim Masa Depan.”

Untuk Aku, dari Aku ♡︎

Haii, Lina kecil.Lama tidak mengunjungimu, yah? Maaf karena aku mengabaikanmu dalam waktu yang lama. Maaf sudah menghentikan cerita tentang kamu bertahun-tahun lamanya. Aku terlalu sibuk dengan kata “dewasa” hingga lupa bahwa Lina yang sekarang tidak akan pernah ada jika Lina kecil tak mampu bertahan. Lina dewasa selalu butuh Lina kecil, begitu juga sebaliknya. Hari ini,Lanjutkan membaca “Untuk Aku, dari Aku ♡︎”

Untuk Kucca, di kota Kalong.

Kucca, apa kabar? Aku baru menyadari satu hal ketika menulis ini, aku jarang sekali menanyakan kebarmu bukan? Semoga, kamu tidak pernah mempermasalahkan kebiasaan buruk ku yang satu itu, dan semoga kamu memahami alasannya meski tidak kuberitahu heheh. Seingatku, Oktober 2021 adalah pertemuan terakhir kita setelah lulus kuliah. Malam yang panjang untuk merangkum semua perjalanan danLanjutkan membaca “Untuk Kucca, di kota Kalong.”

Untuk Diri, Kamu Hebat.

8 Agustus 2021, jadi hari yang tidak akan pernah saya lupakan, hari dimana cinta pertama saya akhirnya benar-benar pergi, pergi yang tidak akan menemukan jalan pulang, namun kami lah yang akan menyusulnya. Saya hanya ingin bilang, saya tidak sedang mencoba lari dari tanggung jawab, tidak ada yang sengaja hilang untuk dicari. Orang-orang bahkan tidak pernahLanjutkan membaca “Untuk Diri, Kamu Hebat.”

Rasemen Day 1

✒KALIMAT SERUPA✒ Barangkali mesin waktu hanyalah dongeng yang selamanya hanya akan menjadi angan-angan manusia. Namun, ia tak pernah benar-benar butuh mesin waktu, toh selembar foto di genggamannya sudah cukup membuatnya merasakan waktu bergulir dan membawanya kembali ke sepuluh tahun lalu. Hi-Five 2013, sepuluh tahun yang lalu di 2022. Aku termasuk yang lemah untuk mengingat banyakLanjutkan membaca “Rasemen Day 1”

Penutup di 2021

Sudah lama tak berkunjung ke rumah keduaku ini. Terakhir, memberi kabar bahwa Ayah telah pergi. Sejak saat itu hingga detik ini, aku masih mencoba meraba akan seperti apa dan bagaimana kehidupanku selanjutnya. Setelah kehilangan ayah, aku benar-benar ‘nyaris’ hilang arah. Aku benar-benar mengasingkan diri dari kehidupan sosial. Jarang atau bahkan tak pernah memulai obrolan diLanjutkan membaca “Penutup di 2021”

40 Hari Setelah Kepergian Ayah.

Hari ini, 40 hari setelah kepergian ayah terkasih. Banyak hal yang secara tiba-tiba mengalami perubahan. Sebelum ayah akhirnya benar-benar pergi, rumah tidak pernah sepi. Meski setahun belakangan ini, saya ibarat anak tunggal yang pada kenyataannya terlahir sebagai bungsu dari enam bersaudara. Hidup bertiga bersama Ayah dan Ibu’ setelah ke 5 kakak menikah dan hidup denganLanjutkan membaca “40 Hari Setelah Kepergian Ayah.”

Buat situs web Anda dengan WordPress.com
Mulai