Tentang Hidup

Karampang Pa’ja, Januari 2022
Berharap udara pagi selalu se-sejuk ini;
Sahut-sahutan para pedagang menjajakan jualannya;
Anak-anak jalan beriringan menuju sekolah;
Riang gembira, bernyanyi, bergandengan tangan;

Tetiba, pandanganku tertuju pada anak diseberang jalan;
Tangannya membelai lembut pada seekor kuda peliharaannya;
Sesekali ia terlihat bercerita, entah apa;
Seekor kuda menyimak dengan tenang, seolah saling memahami satu sama lain;
Bukankah ia harusnya ke sekolah?
Apakah ia benar-benar tidak ingin?
Atau, hiduplah yang memaksa keinginannya terhenti?

Ingin sekali kuhampiri;
Menanyakan banyak hal;
Tetapi, aku tahu bahwa hidup memang tidak selalu berjalan indah.

-Apeka

Untuk kita, Hi-Five â™¡ï¸Ž

Warna-warni hidup ini ada ditangan kita masing-masing. Pilih warnamu sendiri. Jika kamu ingin lukisan yang tampak cerah pilih warna merah, kuning, atau hijau. Jika ingin mendung, pilih warna hitam, coklat, atau abu-abu. Kita tidak bisa melukis pelangi di langit yang indah, tapi kita bisa melukis hidup indah seperti pelangi. Sampai syurga, Insyaa Allaah yah ♥︎

-Apeka

Kata ketua project Rasemen, tema yang satu ini tidak muluk-muluk, sederhana. Tapi, bagiku ketika hendak menulis tentang Hi-Five, rasa-rasanya akan panjang dan emosional. Kukatakan demikian, karena sebelumnya aku tidak pernah menyangka akan dipertemukan dengan 4 perempuan hebat di Hi-Five. Sepanjang malam memikirkan hendak menulis apa untuk rumah kedua ku ini, semoga tulisan ini bisa menjelaskan bagaimana aku beruntung ada diantara mereka.

Awal perkenalan kami dimulai sejak menjadi mahasiswa baru di salah satu Universitas Negeri di Makassar. Kami hanya menjadi teman biasa saat itu, berjalannya waktu kami kerap ngobrol tentang buku yang telah kami baca. Tepatnya saling memberi rekomendasi judul buku. Juga, kami terbiasa mengatur keuangan untuk ke toko buku bersama dan membeli buku-buku yang sebelumnya direkomendasikan. Ritual ke toko buku jadi bagian ter-favorit, dan sekarang aku merindukannya 🥺

19 November 2020, kami membentuk Hi-Five. Beranggotakan lima mahasiswi yang gemar membaca dan menulis. Tidak hanya untuk memberi ruang membaca dan menulis, Hi-Five juga punya podcast loh, Kertasuara 😁. Itulah mengapa, aku sering mengatakan bersyukur dan bangga jadi bagian dari Hi-Five yang punya banyak kesamaan. 5 mahasiswi itu akhirnya lulus, kembali ke kampung masing-masing. Tapi komunikasinya selalu terjaga di grup, seringkali merindukan banyak hal, tentang sepanjang malam yang sering kami habiskan di kost muhajirin untuk ngobrol ngalor kidul. Banyak sekali impian-impian yang puzzle nya kami susun satu persatu disetiap malam panjang yang kami habiskan bersama.

Foto pertama saat Hi-Five terbentuk ♡︎

Kami gemar menyusun banyak rencana perjalanan yang akan dilakukan bersama, meski belum ada yang berjalan, kami tetap menikmatinya. Langkah kami tidak pernah serentak, tapi tujuan yang hendak kami datangi akan selalu sama. Perbedaan pendapat dan pertengkaran kecil jadi bumbu yang menambah rasa persahabatan diantara kami. Jika tidak pernah ada saling diam, maka tidak akan ada introspeksi diri. Aku suka bagaimana persahabatan kami mengerti satu sama lain, aku suka bagaimana persahabatan kami menyelesaikan suatu masalah. Dan, aku amat suka bagaimana persahabatan kami saling merangkul dalam setiap keadaan, meski tidak bisa mendekap secara langsung, namun selalu ada kalimat-kalimat yang hangatnya sampai ke hati.

Semoga pertemuan-pertemuan kita dengan orang baru, tidak membuat kita melupakan Hi-Five. Aku selalu berharap, Hi-Five bukan hanya sebatas grup WA, tapi juga menjadi rumah ketika kalian bingung hendak pulang kemana.

Hi-Five, meski tidak lagi di tempat yang sama, semoga silaturahim terus berlanjut. Karena kita pernah berada di tempat yang sama, menghabiskan banyak waktu untuk saling menguatkan, menangisi setiap kesusahan yang dialami, menertawakan setiap kegilaan yang dilakukan, melukis senyum untuk semua kebahagiaan, juga saling membanggakan untuk setiap pencapaian yang didapat.

Semoga Hi-Five tidak lelah berjalan bersama. Untuk semua project yang sudah dan akan berjalan kedepannya, semoga akan tetap menjadi kegiatan yang paling menyenangkan untuk dilakukan. Semoga dari semua kesibukan yang sedang dijalani, selalu ada waktu yang disisihkan khusus untuk project-project kita. Semoga, Hi-Five terus tumbuh, menebar manfaat dan kebahagiaan untuk banyak orang.

Aku bangga sekali pada kalian. Bangga pernah dan terus berinteraksi bersama kalian. Juga, bersyukur telah dipertemukan dengan perempuan-perempuan hebat seperti kalian. Aku sayang, sangat 🥺💛

Terakhir, Selamat dan semangat! Kutunggu undangan pernikahan kalian, kecuali Hasmiachan yang sudah sat-set-sat-set dari kakak-kakaknya di Hi-Five 

Sahabatmu, yang mencintai dan merindukan kalian: Apeka ♡︎

Senja yang Pergi.

Sumber Pict: https://pin.it/6amtgYj

Terkadang, bentuk luka dari patah hati tak melulu soal kecewa, tapi juga bisa dalam wujud bahagia.

Mereka, Arini dan Ridho. Hubungan mereka biasa saja, sampai Arini mengharap lebih kepada Ridho yang tidak pernah menginginkannya. Sore itu, mereka hendak melakukan ritual menunggu senja di tepi dermaga. Ya, keduanya sangat suka dengan senja.
“Rin, kalau aku ga ada, apakah kamu akan tetap menunggu dan menatap senja?” Ridho melirik, memastikan Arini menyimak pertanyaannya.

“Dho, kamu ta ga? Dulu aku tidak begitu suka dengan senja, tapi karena duduknya berdua sama kamu, aku malah ingin terus mengucapkan terima kasih pada senja karena sudah ada”, Arini menjawab persis dengan apa yang sudah lama ia simpan.

Ridho menatap bingung, “Rin, kamu tidak sedang mencoba mengutarakan perasaanmu, kan? Jangan yah, aku ga mau kamu terluka. Aku merasa, kita selalu serasi untuk menjadi teman. Bukan sebagai pasangan, Rin. Aku ga yakin kamu akan tetap dengan perasaanmu jika sekiranya aku dengan perasaan yang sama. Karena kita memang sebaiknya hanya menjadi teman Rin”.

“Rin, minggu depan aku akan pindah ke Bandung. Tempatku bekerja mengirim aku kesana, dan aku juga sudah ada rencana untuk menikah dengan ia yang selalu aku ceritakan ke kamu Rin. Kamu baik-baik yah? Semoga kamu bertemu dengan ia yang memiliki bahkan tidak masalah jika semua perasaannya hanya untuk mu”, Ridho berdiri dan mengambil sepedanya.

Arini tetap diam, berjalan mendahului Ridho bersama sepedanya. Arini sibuk memeluk perasaannya sendiri. Memastikan dirinya untuk baik-baik saja.

Seperti sebuah epilog tanpa prolog pada sebuah cerita. Kisah Arini dan Ridho tidak pernah dimulai, tetapi seolah telah berakhir tanpa ada kata selesai. Bahkan ketika Arini telah berhasil menulis bukunya, kisah mereka sama sekali tidak pernah dimulai. Padahal tokoh utama dari semua tulisan Arini adalah,  Ridho. 

Ridho pernah berjanji untuk menunggu Arini menemukan jalannya sebagai penulis. Saat Arini berhasil menemukan jalan itu, Ridho memilih melewati jalan yang berbeda, lalu akhirnya pergi. Hebatnya, Arini tidak lantas mengakhiri perjalanannya, ia mengikhlaskan satu hal, “Biarlah senja tidak seindah dulu lagi, atau jika ia ingin pergi, tidak mengapa. Tidak semua yang datang harus tinggal”.

Arini mengerti satu hal, bahwa tidak mengapa dengan Ridho yang berjanji namun tidak membuktikan, karena Ridho memang tidak harus untuk itu. 

“Mari bertemu di titik terbaik menurut taqdir. Entah bersama atau dengan pilihan masing-masing, maka itulah yang terbaik”. Arini.

Hakim Masa Depan.

Tidak ku kelak bahwa aku tumbuh di lingkungan yang sebagian besar orang-orangnya kerap melakukan cemooh berkedok bercanda. Sometimes, mereka bisa dengan mudah menilai seseorang hanya dengan perspektif yang ada dalam kepalanya. Amat sangat tidak adil, right?

Saya pribadi, sempat mengalami mental breakdown karena penilaian-penilaian mereka.
“Halah, katanya sarjana, tapi nganggurnya lama”,
“Percuma kuliah kalau gajinya UMR, lulusan SMA juga banyak yg bisa kalau cuman UMR”,
“Katanya pintar, kok ga bisa jadi PNS?”.
“Kamu belum kerja juga yah? Anak saya mah sudah, malah dia kerja di tempat yang gajinya tinggi”.

Seperti ini, kuliah bukan berarti bisa  meremehkan orang yang tidak kuliah, atau siapapun. Jangan sok menilai seolah mereka yang tidak kuliah, tidak akan bisa menjadi apa-apa. Pun sebaliknya, jika kalian tidak kuliah, jangan menggiring opini dengan melakukan pembelaan bahwa yang kuliah belum tentu bisa dapat kerja.

Jika kalian di beri rezeky berupa pekerjaan yang bagus dengan gaji tinggi, jangan pernah menganggap rendah orang-orang yang masih berjuang dengan usaha kecilnya. Lagi sebaliknya, jika usaha atau bisnis yang sedang kalian jalankan sukses, jangan pernah mencemooh para pekerja kantoran yang pontang panting lembur tapi gajinya hanya UMR.

Lalu, PNS. Banyak orang masih berpikiran sempit bahwa masa tua hanya bisa terjamin dengan menjadi PNS. Padahal apapun pekerjaannya, jika gigih di usia produktif, maka ia bisa bersantai di masa tua tanpa harus sibuk berpikir mau dapat makan dari mana lagi. Juga untuk orang-orang yang memilih tidak menjadi PNS tapi penghasilannya besar dan masa tua nya terjamin, jangan mencibir mereka yang sedang berjuang untuk daftar PNS.

Aku bersyukur lahir di keluarga yang tetap memupuk cinta bagaimanapun proses hidup yang harus kami lewati. Apalagi berjalan beriringan bersama kelima orang kakak yang tidak pernah mengatur bahwa aku hanya boleh bekerja di jenis dan tempat tertentu. Karena mereka manganut kepercayaan bahwa, selagi pekerjaannya halal dan kita bahagia menjalaninya, maka hasilnya pun akan baik.

Semua punya porsinya masing-masing, jangan pernah menjadi hakim untuk masa depan semua orang. Yang hari ini masih berjuang, boleh jadi esok menjadi orang besar. Dan yang hari ini sudah hidup mapan, dalam sekejap Allah bisa saja mengambil semuanya. Tidak ada satu orang pun yang benar-benar tahu bagaimana setiap orang berjuang untuk meraih impiannya, ada yang selalu gagal tapi tidak pernah berhenti untuk berjuang. Jadi, berhenti menuntut dan mengatur hidup orang lain agar selalu sama dengan kemauanmu.

Untuk Aku, dari Aku â™¡ï¸Ž

Haii, Lina kecil.
Lama tidak mengunjungimu, yah? Maaf karena aku mengabaikanmu dalam waktu yang lama. Maaf sudah menghentikan cerita tentang kamu bertahun-tahun lamanya. Aku terlalu sibuk dengan kata “dewasa” hingga lupa bahwa Lina yang sekarang tidak akan pernah ada jika Lina kecil tak mampu bertahan. Lina dewasa selalu butuh Lina kecil, begitu juga sebaliknya.

Hari ini, akhirnya aku memberanikan diri untuk datang menemui Lina kecil di beberapa tahun yang lalu untuk bercerita tentang banyak hal. Melalui lorong-lorong besar dalam diriku yang selalu ramai, aku datang mengunjungimu. Jika aku bercerita terlalu lama dan terdengar klise, semoga Lina kecil mengerti bahwa Lina dewasa harus berdamai dengan banyak hal sebelum datang menemuinya.

Berhasil menemukan Lina kecil seolah sesak pada Lina dewasa hilang seketika. Beban-beban yang tertahan di pundakku, ibarat belukar tanpa jalan keluar. Sibuk menyenangkan orang lain karena tidak pernah berani untuk tak disukai. Sungguh, Lina dewasa hidup dengan jalan cerita yang sendu, meski yang terlihat kehidupannya lebih baik dari Lina kecil. Tapiii, bukan kah orang-orang tak pernah benar-benar tahu apa yang sedang dirasakan oleh Lina dewasa?

Haii, Lina kecil.
Kita hebat sekali yah? Berhasil tiba di titik ini. Aku beruntung tumbuh dari Lina kecil yang kuat. Lina kecil yang selalu mengalah dengan banyak hal, Lina kecil yang tidak pernah protes karena mendapat seragam sekolah bekas dari kakaknya, Lina kecil yang setiap pulang sekolah tidak ingin makan jika bukan nasi goreng buatan Ibu, Lina kecil yang yang hanya diantar oleh Ibu saat hari pertama masuk sekolah dasar, lalu setelahnya dibiarkan sendiri, Lina kecil yang selalu dibangunkam Ibu sebelum adzan subuh untuk mandi di sumur belakang rumah lalu bersiap ke sekolah, Lina kecil yang tidak pernah malu membawa banyak jenis dagangan ke sekolah dan tempat mengaji untuk dijual, Lina kecil yang selalu ikut almarhum ayahnya untuk jala ikan di empang, Lina kecil yang selalu berani membawa 2 ekor kuda dan 3 ekor kambing untuk dibawa ke tempat yang banyak rumputnya, Lina kecil yang kaki dan tangannya pernah berdarah-darah karena diseret beberapa meter oleh kambing jantan di tempat yang banyak pecahan belingnya. 

Lina kecil yang selalu diantar ayahnya ke tempat mengaji menggunakan motor jenis Legenda kesayangan ayah, Lina kecil yang setiap mati lampu selalu minta ke ayah untuk diceritakan kisah pertemuannya dengan Ibu, Lina kecil yang setiap malam selalu tidur depan TV lalu ayah akan menggendongnya ke kamar. Juga, Lina kecil yang tidak pernah membayangkan akan ditinggal ayahnya dua hari menjelang ia wisuda sarjana. Lina kecil yang tidak pernah tahu bahwa kehidupannya akan berubah 360 derajat setelah kepergian ayah.

Ada banyak sekali yang ingin kuceritakan pada Lina kecil, tentang jalan-jalan sempit dan penuh rintangan. Perihal orang-orang yang selalu kuanggap kawan, tetapi mereka sebaliknya padaku. Memang benar, kehidupan orang dewasa selalu penuh dengan kejutan. Kejadian-kejadian yang bahkan terlintas pun tak pernah di masa kecil, seolah bom molotov yang meledaknya bersamaan di usia dewasa. Ibarat demonstrasi yang dramatis, ledakan terdengar dimana-mana. Seperti itu lah kehidupan orang dewasa, Lina kecil.

16 Juli di 23 tahun silam, Lina kecil lahir. Lina kecil si periang, yang selalu senang ikut almarhum ayah juga kakak laki-lakinya kemana saja. Lina kecil yang selalu makan makanan apa saja asal almarhum ayah juga memakannya. Lina kecil yang setiap sahur pertama akan dibulatkan nasi oleh ayah, dibacakan niat sahur lalu disuapi. Lina kecil yang tidak pernah tahu bahwa kehidupan orang dewasa layaknya permainan arung jeram juga roller coaster. But, thank u for not to give up. Thank u for just choosing a break and stop at the intersection, then continue the journey again.

Lina dewasa akan selalu bangga pada Lina kecil. Kuharap Lina kecil juga bangga pada dirinya yang sekarang, pada Lina dewasa yang berani mengambil banyak keputusan dalam hidupnya. Pada Lina dewasa yang pandai sekali mengendalikan tombol on-off dalam dirinya. Mulai hari ini, aku akan rajin mengunjungimu, menceritakan semua hal yang kulalui. Sedih ataupun senang, kita sepakat untuk melaluinya bersama.

Lina kecil, tahu tidak? Aku sangat bangga kamu tumbuh menjadi anak yang kuat, kamu hebat sekali 🥺 tetap kuat dan lebih kuat lagi yah? Jangan pernah takut, genggaman tangan kita tidak akan pernah lepas. Aku mencintai Lina kecil, dan akan selalu bangga pada Lina dewasa.

Untuk Kucca, di kota Kalong.

Kucca, apa kabar? Aku baru menyadari satu hal ketika menulis ini, aku jarang sekali menanyakan kebarmu bukan? Semoga, kamu tidak pernah mempermasalahkan kebiasaan buruk ku yang satu itu, dan semoga kamu memahami alasannya meski tidak kuberitahu heheh.

Loc. Pict: Pantai Losari, Makassar.

Seingatku, Oktober 2021 adalah pertemuan terakhir kita setelah lulus kuliah. Malam yang panjang untuk merangkum semua perjalanan dan perjuangan selama merantau di kota. Malam itu, bersama teman-teman Hi-Five kita memilih untuk tidur larut malam hanya karena ingin menghabiskan banyak waktu sebelum kembali ke kampung masing-masing. Kalian menanyakan terkait kondisiku bersama keluarga setelah ayah meninggal. Aku menceritakan dengan amat pelan, dan kalian menyimak sembari menangis. Aku masih ingat itu :”

Kucca, kalau diingat lagi, kita jarang sekali mengambil foto berdua, yah? Kita lebih sering menghabiskan banyak waktu untuk mengobrol ketika bersama, jalan keluar pun tidak terlalu memedulikan untuk mengambil potret diri. Dan aku menyesalinya sekarang ☹️

Kucca, di perjalanan panjang yang kukira akan sendiri, ada banyak kebahagiaan karena Allah izinkan aku bertemu denganmu, juga kawan-kawan hi-five. Terima kasih untuk selalu memahami sebelum aku menceritakan segala getir yang kulalui. Terima kasih untuk selalu bersedia berpegangan tangan bagaimanapun keadaannya. Aku ingat sekali, bagaimana sabarmu memelukku lewat dekapan kalimat juga kembali meyakinkan saat aku hampir kehilangan arah di minggu-minggu kepergian ayah. Kita saling menguatkan melalui pesan Whatsapp. Katamu, kamu amat mengerti dengan apa yang kurasakan karena kamu lebih dahulu telah merasakan bagaimana pedihnya kehilangan cinta pertama.

Kucca baik-baik, yah. Juga Ibumu. Senang sekali kalau mendengar obrolan kalian via telefon dengan menggunakan bahasa bugis, aku pasti akan sigap meniru kalimatmu heheheh. Tolong, untuk tetap mementingkan kebahagiaan mu yah? Jangan lupa untuk mengurus perasaanmu, ingat kita sudah di usia yang selalu dihantui dengan pertanyaan “kapan nikah?”. Dan, untuk urusan pekerjaan, mari saling mendo’a kan untuk kemudahan masing-masing.

Kucca, meski berada di tempat yang berbeda, semoga kita tetap bersedia melanjutkan perjalanan menuju impian kita masing-masing. Semoga kita selalu bersedia untuk saling mengingatkan di jalan kebenaran. Jika kelak kamu tidak menemukanku di Syurga, tolong cari aku.

Peluk rindu dari sahabatmu, Apeka 🤗💛🌻

Untuk Diri, Kamu Hebat.

8 Agustus 2021, jadi hari yang tidak akan pernah saya lupakan, hari dimana cinta pertama saya akhirnya benar-benar pergi, pergi yang tidak akan menemukan jalan pulang, namun kami lah yang akan menyusulnya.

Saya hanya ingin bilang, saya tidak sedang mencoba lari dari tanggung jawab, tidak ada yang sengaja hilang untuk dicari. Orang-orang bahkan tidak pernah tahu, dan tidak pernah ada di situasi paling sulit saat itu. Tapi, mengapa mereka pandai sekali mengarang cerita? Seolah, saya tidak berhak mengatakan bahwa saya sedang dalam keadaan yang sulit dan rumit. Seolah, hanya beban orang lain yang boleh dimaklumi dan bebanku tidak.

Dua hari menjelang wisuda, ayah saya meninggal dunia. Dua minggu sebelum ayah meninggal, saya harus isoman dan tidak bertemu ayah juga Ibu. Saya bahkan harus jatuh sakit berulang kali hanya untuk mengejar waktu dan kesempatan. Dua hari setelah ayah meninggal, saya tidak berani menghadiri acara wisuda, kaki saya benar-benar tidak kuat untuk berdiri. Saya tidak pernah merasakan bagaimana wisuda, dan saya sama sekali tidak memiliki fotonya. Lalu, satu minggu setelah ayah meninggal, saya menerima email bahwa saya diterima bekerja di salah satu PT di luar kota, saya harus mengikhlaskan pekerjaan tersebut karena tidak mungkin meninggalkan Ibu sendiri di rumah. Saya jalan di tempat selama 5 bulan setelah ayah meninggal, semua rencana-rencana yang saya susun sebelumnya pada akhirnya tidak ada yang bisa berjalan. Nyatanya, banyak hal memang di luar kendali manusia, yah?

Saya masih ingat, bagaimana darah di tubuh saya seolah berhenti mengalir. Saya masih ingat, saat badan saya gemetar seolah tak lagi berpijak di bumi. Saya masih ingat, bagaimana saya menangis sepanjang malam selama berminggu-minggu. Saya masih ingat, bagaimana saya berusaha dengan keras untuk tetap dapat bernafas. Saya masih ingat, bagaimana akhirnya saya minta menyerah dan minta untuk dibuat lupa. Juga, saya masih sangat ingat, bagaimana hebatnya Allah mengendalikan tombol on off dalam diri saya agar tetap terlihat baik-baik saja di depan orang-orang.

Saya kehilangan ayah, saya juga kehilangan banyak hal di waktu bersamaan. 5 bulan saya menghindar dari banyak orang, menonaktifkan semua sosmed, dan tidak ingin bertemu siapapun kecuali orang rumah. Desember, saya memberanikan diri mencari tahu kontak seorang psikiater berbekal dari seorang kenalan yang pernah menjadi asisten nya. Saya sendiri saat itu, saya disebut memiliki gejala depresi berat. Saya tidak tahu akan jadi seperti apa jika tidak bertemu Psikiater waktu itu. Hingga akhirnya sekarang saya memutuskan pindah domisili untuk bekerja juga mengobati luka batin saya. Hidup harus terus berjalan bukan? Saya sayang dengan ayah, beliau pasti amat mengerti bahwa hidup saya dengan Ibu harus terus berjalan. Saya harus tetap berdiri dan melangkah agar Ibu saya bisa hidup dengan layak.

Seperti kata Mas Tulus di lirik lagu Diri,
“Luka-luka hilanglah luka, biar senyum jadi senjata, kau terlalu berharga untuk luka, katakan pada dirimu, semua baik-baik saja. Semua baik-baik saja”

Diri, lagu self love yang manis. Diksinya apik, saya jatuh cinta dengan pesan yang saya dapat dari lagu ini. Akhirnya saya memiliki keberanian untuk bercerita dengan orang-orang. Rasanya sesak sekali berbulan-bulan menyimpannya seorang diri. Saya merasa aman di sini, setidaknya tidak ada orang yang mengenal saya sehingga tidak akan ada lagi kalimat, “Baru aja segitu sudah sok stress, saya yang diuji lebih banyak biasa-biasa aja. Jangan terlalu lebay, di luar sana masih banyak yg lebih menyedihkan dari hidupmu“, yang terdengar di telinga saya.

Sumber gambar: Album Tulus – Manusia.

Keberanian untuk menulis cerita ini, lahir setelah mendengar lagu yang berjudul “Diri” milik mas Tulus.

Tidak apa jika kamu butuh waktu yang lama untuk sembuh, karena kehilangan memang punya waktu tersendiri untuk diobati. Semoga kebahagiaan dan kehidupan yang baik selalu membersamai teman-teman ♡︎

-Apeka-

Rasemen Day 1

✒KALIMAT SERUPA✒

Barangkali mesin waktu hanyalah dongeng yang selamanya hanya akan menjadi angan-angan manusia. Namun, ia tak pernah benar-benar butuh mesin waktu, toh selembar foto di genggamannya sudah cukup membuatnya merasakan waktu bergulir dan membawanya kembali ke sepuluh tahun lalu.

Hi-Five

2013, sepuluh tahun yang lalu di 2022. Aku termasuk yang lemah untuk mengingat banyak kerjadian yang telah berlalu, tapi banyak hal juga masih terekam dengan jelas setiap inci kenangannya. Sepuluh tahun yang lalu setiap ditanya, “Lina, ingin menjadi apa?”. Jawabku selalu, “Penulis, do’a kan dong”.

Kalau ditanya mengapa, sederhana. Saat itu wali kelas yang juga guru Bahasa Indonesia kami, memilihku untuk mengikuti lomba puisi di kegiatan porseni sekolah. Alhamdulillah juara 1, sejak saat itu lah impian menjadi penulis selalu ada dan akan tetap ada. Rasanya ingin kembali kesana, menikmati setiap langkah yang berhasil menuntunku ke titik ini. Meski belum menjadi apa-apa, setidaknya aku tidak pernah ingin melarikan diri dari menulis. Sebab, aku merasa tidak pernah kehilangan rumah jika menulis ♡︎

Sumber Pict: Facebook, 2013. Momen juara umum porseni kelas 7.3 SMP Negeri 1 Binamu Jeneponto

Ditulis, 1 Juni 2022

Penutup di 2021

Sudah lama tak berkunjung ke rumah keduaku ini. Terakhir, memberi kabar bahwa Ayah telah pergi. Sejak saat itu hingga detik ini, aku masih mencoba meraba akan seperti apa dan bagaimana kehidupanku selanjutnya. Setelah kehilangan ayah, aku benar-benar ‘nyaris’ hilang arah. Aku benar-benar mengasingkan diri dari kehidupan sosial. Jarang atau bahkan tak pernah memulai obrolan di dunia nyata, terlebih maya.

Akhir tahun yang lalu aku berdo’a kepada Allah, “Ya Raab, semoga segala sedih ditahun ini bermuara pada bahagia di 2021. Aku tahu Allah Maha Baik, Allah benar-benar tahu bagaimana aku melewati semua liku di 2020”. Begitulah pintaku yang terus kuulangi di 2020 yang lalu, semua punya alasan mengapa aku terus merengek pada Allah agar 2020 segera berlalu. Dugaanku, 2021 akan jauh lebih baik, lebih sedikit air mata dan jatuh. Tapi kembali lagi bahwa manusia hanya pandai menduga-duga, keputusan tetap ada pada Allah.

2020 berlalu, 2021 berjalan dengan lambat menurutku. Mungkin karena air mata lebih banyak tahun ini, jadi aku merasa terjebak dan jalan di tempat. Tahun ini penuh kejutan, hingga sebagian besar kejutan itu sama sekali tak pernah ada dalam list harapanku. Sungguh, semua berjalan diluar kendaliku. Jatuh-bangun melewati 2021, hingga tak jarang aku merasa iri pada mereka yang jalan hidupnya selalu diberi kemudahan dan kebahagiaan.

Ayah berpulang dua hari sebelum aku wisuda. 4 tahun aku memperjuangkan semuanya untuk impianku juga impian keluargaku, tapi Allah lagi-lagi punya rencana yang berbeda dengan harapanku. Apa kamu pernah merasakan dibuat mati oleh isi kepalamu sendiri? Seperti itulah aku di 2021, puncaknya pada bulan agustus saat ayah berpulang. Sekujur tubuhku seolah lumpuh, aku benar-benar tak bisa mencerna semuanya, kepalaku penuh dengan pertanyaan-pertanyaan mengapa ayah harus pergi saat itu. Semua pertanyaan itu memenuhi kepalaku, tak ada celah yang bisa kumanfaatkan untuk mencari jawaban. Aku berdebat dengan diriku sendiri, isi kepalaku tak mau kalah.

Ada banyak orang baru yang kutemui ditahun ini, tapi tak sedikit pula kehilangan yang harus kualami. Seolah semesta sedang melakukan barter denganku. Namun jika boleh memilih, tak perlu datangkan orang-orang baru dihidupku asal ayah juga keluargaku yang lain tak pergi dari muka bumi. Tak ada patah hati yang benar-benar bisa sembuh yang disebabkan oleh kehilangan orang-orang terkasih. Cinta pertama ku pergi dua hari menjelang wisuda ku, bisa kalian tebak bagaimana aku saat itu? Heheh aku hancur dan aku sangat merindukannya sekarang ☹︎

2021, meskipun ada lebih banyak tangis di tahun ini, aku tetap ingin mengucapkan terima kasih untuk semua jatuh-bangun, liku, sedikit tawa, juga air mata yang mendominasi. Awalnya, aku kira Allah tak sayang, hingga aku menyadari sebuah kebenaran bahwa orang-orang yang diberi ujian adalah mereka yang Allah sayang. Allah tahu aku mampu, makanya Allah ingin melihat aku lulus ujian.

Thank God, terima kasih untuk selalu bersedia menjadi tempat pulang dan teman bercerita. Terima kasih sudah memberi kemampuan pada diri untuk melewati semuanya, terima kasih sudah menitipkan kuat tanpa batas, terima kasih sudah meluaskan sabar, terima kasih sudah menanamkan ikhlas, terima kasih untuk selalu membersamai. Aku, Ibu, dan kakak-kakakku tidak pernah tahu akan seperti apa dan bagaimana kami jika tidak ada Allah saat ayah pergi. Terima kasih, terima kasih untuk 2021 dengan segala ceritanya. Aku tidak akan minta banyak hal untuk 2022, aku hanya akan berjalan sama seperti apa yang telah Allah rencanakan.

シ︎ Apeka.

40 Hari Setelah Kepergian Ayah.

Hari ini, 40 hari setelah kepergian ayah terkasih. Banyak hal yang secara tiba-tiba mengalami perubahan. Sebelum ayah akhirnya benar-benar pergi, rumah tidak pernah sepi. Meski setahun belakangan ini, saya ibarat anak tunggal yang pada kenyataannya terlahir sebagai bungsu dari enam bersaudara. Hidup bertiga bersama Ayah dan Ibu’ setelah ke 5 kakak menikah dan hidup dengan keluarganya masing-masing.

Meski waktu itu hanya tinggal kami bertiga, rumah tidak pernah se-sepi ini. Setiap hari saya masih bisa mendengar Ibu berceletuk riang tentang ayah. Sepanjang hari, saya masih bisa melihat ayah mengurus dua burung peliharaannya yang selalu ingin kulepas dari kandang. Setiap hari masih bisa melihat Ibu’ memegang kepala ayah kala senja menyapa lalu bersenda gurau, ibarat dua kawula muda yang sedang dimabuk cinta.

Pemandangan-pemandangan itu, kini tidak lagi bisa kujumpai di rumah. Selepas kepergian ayah, Ibu’ memilih melimpir dari semua kebiasaan-kebiasaan maha mengagumkan yang dimilikinya saat mengurus kami. Ibu’ tetiba jadi enggan masak, jarang makan, lalu hobi menangis. Setiap menjelang subuh, Ibu’ pasti terbangun dengan mata yang sudah berair, pipi yang basah, bibir yang keluh juga raut wajah yang selalu sendu. Aku faham, Ibu’ jauh lebih hancur dan terluka dari semua orang yang mengaku kehilangan ayah.

Bu’, saya sepakat bahwa musim sedih tahun ini benar-benar jauh lebih panjang. Apalagi harus kehilangan ayah yang menjadi tiang paling kokoh di rumah. Tapi Bu’, hidup harus terus berjalan. Kita tidak akan pernah melupakan ayah, namun ingatan tentang ayah lah yang akan terus menjadi alasan kita kuat. Ibu’ tidak pernah sendiri, selalu ada kami.

Kuat-kuat untuk sesiapun yang sedang dirundung duka, dari tempat yang berbeda kita saling merangkul dan menguatkan dengan mengirim do’a ✨

Buat situs web Anda dengan WordPress.com
Mulai